Bulan Muharram 1448 H & Malam Ke 5 Asuro 2026, Dusun Mading Desa Rowo Gempol, Kec, Lekok Menggelar Santunan Anak Yatim

Pasuruan|| LiputanKasus.com – Memperingati Bulan Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan malam ke 5 Asuro Tahun Baru Islam Dusun Mading Desa Rowo Gempol Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, Menggelar Santunan Anak Yatim tepat nya tanggal 20 – Juni – 2026.
Alkhamdulillah acara tersebut dalam pembukaan diawali magom Al-Banjari setelahnya dilanjutkan santunan anak yatim dan warga setempat berbondong bondong untuk menaiki mimbar yang disediakan panitia yaitu Kasung Hanan selaku ketua juga Abdul Salam selaku sekretaris juga Abdul Mujib sebagai bendahara dan dibantu oleh saudara bapak bapak RT dan RW di acara tersebut dan guna untuk menyantuni 14 anak yantim setelah selesai dilanjutkan untuk sholawatan Al banjari setelah nya dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz Adam.
Dua momentum istimewa ini menjadi cerminan jiwa bangsa Indonesia yang menyatukan nilai-nilai ketuhanan dengan kearifan leluhur yang telah hidup turun-temurun.
Di bulan Muharram membawa makna hijrah — berpindah dari hal yang kurang baik menuju yang lebih baik, meninggalkan sifat tercela menuju akhlak mulia, sebagaimana teladan Rasulullah SAW.
Sementara itu, di bulan Suro dalam tradisi Nusantara mengandung makna mendalam sebagai waktu mawas diri, membersihkan hati, dan memperteguh tekad agar senantiasa menjaga keseimbangan hidup: selaras dengan Sang Pencipta, selaras dengan alam semesta, dan selaras dengan sesama manusia.
Mengangkat semboyan: “Hijrah Menuju Kebaikan, Suro Menjaga Harmoni Budaya, Alam, dan Sesama.” Pesan ini menggambarkan bahwa perbaikan diri tidak terlepas dari akar budaya sendiri — nilai sopan santun, gotong royong, rasa kebersamaan, dan hormat-menghormati yang telah menjadi napas kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu.
Momentum ini sebagai panggilan untuk menghadirkan berita yang akurat, jurnalisme yang berintegritas, dan karya yang mencerminkan kepribadian bangsa: teguh dalam prinsip agama, namun tetap luwes dalam menghargai keberagaman budaya.
Seperti halnya gunung yang kokoh dan sungai yang mengalir, semangat baru ini diharapkan membawa perubahan yang membawa berkah, tidak merusak, melainkan menyuburkan persatuan dan peradaban.
Momen ini menjadi pengingat bersama: menjadi umat yang bertakwa sekaligus menjadi warga yang mencintai warisan budaya. Dengan berpegang teguh pada iman dan kearifan lokal, bangsa Indonesia akan senantiasa tumbuh menjadi bangsa yang bermartabat, damai, dan sejahtera. Pungkasnya
( Gus, Daeng )







