Jamasan Pusaka Malam 1 Suro, Menyucikan Warisan Leluhur, Menyambung Dua Dunia’ Dan Simbol Dua Alam

Kota Batu Malang//LiputanKasus.com – Di balik kabut tipis yang menyelimuti lereng Kota Batu, aroma dupa dan doa-doa kuno menggema dari sebuah padepokan di Dusun Banaran, Desa Bumiaji. Malam itu bukan malam biasa. Malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam kalender Hijriah menjadi waktu sakral di mana ratusan pusaka kembali dimandikan, ditayuh, dan disidikara dalam ritual Jamasan yang sarat makna.tutur nya
KH. Musyrifin Amongjiwo MM atau dengan gelar lengkapnya KRHA. KH. Amongjiwo menyampaikan kepada Awak Media LiputanKasus.com dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyambut malam pergantian tahun Islam itu dengan khusyuk. Di Padepokan Dzikir dan Ta’lim Bumiaji Panatagama yang ia pimpin, 474 keris, 88 pedang, 151 tombak, 122 trisula, 99 tongkat, dan lebih dari 300 alat pertanian milik warga Kota Batu dirawat secara spiritual dan estetis. Selama dua hari, mulai sore kemarin hingga malam ini, 27 santri turut membantu proses sakral tersebut.imbunya
“Ini bukan hanya tradisi. Ini ikhtiar kami untuk menjaga sambungan antara yang lahir dan yang batin. Antara manusia dan semesta. Antara yang terlihat dan yang gaib,” ujar KH. Amongjiwo dengan suara tenang dan penuh keyakinan.
Pusaka, Lebih dari Benda,Jamasan pusaka bukanlah sekadar proses pembersihan fisik. Bagi masyarakat Jawa, terutama yang masih memegang teguh adat leluhur, pusaka adalah perpanjangan dari sejarah, jati diri, dan bahkan jiwa. Maka setiap tahun, pusaka-pusaka itu dirawat secara khusus, terutama saat datangnya bulan Suro yang dianggap penuh kekuatan mistik dan spiritual.
“Secara metafisika, ini cara kita menjaga simbiosis mutualisme antara dua dunia. Dunia manusia dan dunia gaib. Dunia nyata dan tak kasat mata,” tutur KH. Amongjiwo.
Menariknya, ritual ini tidak hanya diikuti oleh warga sipil. Museum Brawijaya Malang, misalnya, setiap tahun menitipkan 11 pusaka koleksi mereka untuk dijamas, ditayuh, dan disidikara di padepokan ini. Tradisi yang tidak hanya mempererat nilai spiritual, tapi juga menjaga relasi budaya lintas lembaga.
Tradisi Keraton, Warisan yang Masih Hidup”,Malam Suro bagi masyarakat Jawa adalah perwujudan dari harmoni antara budaya dan spiritualitas. Banyak tradisi keraton yang menjadikan bulan ini sebagai momen untuk menyelenggarakan ritual-ritual penting, dan kini diwariskan kepada masyarakat hingga ke lereng-lereng pegunungan seperti di Kota Batu.
“Ini bagian dari budaya keraton yang diturunkan ke masyarakat. Supaya kita tidak putus dari akar,” jelas KH. Amongjiwo, yang juga dikenal sebagai penjamas pusaka berpengalaman.
Jamasan pun menjadi semacam pameran hidup. Kolektor pusaka dari berbagai daerah memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan koleksi mereka, sekaligus bersilaturahmi spiritual. Ada semacam rasa bangga dan tanggung jawab yang terpancar dari wajah para pemilik pusaka ketika warisan leluhur mereka disentuh air jamasan dan doa-doa leluhur.
“Pusaka tidak hanya terbatas pada keris atau tombak. Sabit, cangkul, hingga mata garu milik petani pun mendapat tempat di ritual jamasan. “Alat pertanian juga pusaka. Karena dari sanalah hidup rakyat dimulai,” ujar KH. Amongjiwo.
Malam ini, di tengah dinginnya udara Bumiaji dan tenangnya suasana pegunungan, puluhan doa terus mengalun. Butir air menetes dari bilah pusaka. Bunga melati mengambang di baskom kuningan. Dan di tengahnya, seorang ulama berdiri tegak, memandikan pusaka bukan hanya dengan air dan bunga, tapi juga dengan ketulusan menjaga warisan yang tak kasat mata “jiwa budaya”. Pungkasnya.
Jurnalis: Biro Daeng







