Agenda tradisi Budaya Tahunan Hari Raya Ketuju/ Ketupat Kec, Lekok: Antara Syukur Nelayan Laut, dan Daya Tarik Wisata Pesisir Pasuruan

Pasuruan||LiputanKasus .com – Tradisi budaya tahunan Desa Tambak, dan Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan kembali digelar tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Bagi masyarakat pesisir, momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud rasa syukur atas hasil laut yang melimpah sekaligus penggerak ekonomi lokal, Sabtu ( 28/3/2026).
Sejak pagi, aktivitas warga setempat dan luar daerah, mulai memadati kawasan setempat guna menggelihat Perahu-perahu nelayan dihias, hasil bumi dan laut disiapkan, lalu diarak menuju tengah laut dalam prosesi yang dikenal sebagai “praonan”. Di sanalah, sesaji dilarung—sebuah simbol penghormatan kepada laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga pesisir.
Namun, di balik kemeriahan itu, tradisi tahunan juga menyimpan dimensi spiritual yang kuat. Sebagian masyarakat meyakini tradisi ini sebagai bentuk “penjagaan hubungan” dengan alam, sebuah kepercayaan turun-temurun yang telah mengakar jauh sebelum modernisasi menyentuh wilayah pesisir. tutur salah satu warga setempat
Di sisi lain, tradisi ini kerap memantik perbincangan sampai kluar daerah, warga luar daerah Kecamatan Lekok, yang memandangnya sebagai kearifan lokal yang patut dilestarikan, sementara yang lain mempertanyakan unsur kepercayaan di dalamnya. Meski demikian, tradisi tetap berjalan, bahkan kian berkembang.
Tak bisa dipungkiri, tradisi kini menjelma menjadi magnet wisata. Ribuan pengunjung, baik dari dalam daerah Kecamatan Lekok, maupun luar daerah Lekok, yang memadati kawasan pesisir Lekok untuk mengikuti prosesi praonan tersebut.
Pedagang lokal pun kebanjiran rezeki—dari kuliner, cendera mata, hingga jasa wisata dadakan,
Bagi warga Desa Tambak, juga Desa Jatirejo, tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga strategi bertahan melestarikan, Di tengah ketidak pastian hasil tangkapan dan tekanan ekonomi, tradisi tahunan yang dinanti nantikan warga setempat, yang menjadi ruang kolektif untuk berharap, bersyukur, sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.
Tradisi budaya ini Momentum bagi Masyarakat lokal juga luar daerah yang Agendakan setiap tahun sekali bagi masyarakat Lekok, laut bukan hanya sumber nafkah—tetapi juga ruang spiritual, budaya, dan harapan yang tak tergantikan. Pungkasnya
( Gus, Daeng )






