Pasien Harus Dioperasi Ulang, RSIA Puri Bunda Madura Diduga Persulit Akses Rekam Medis

Kota Surabaya ||LiputanKasus.com – RSIA Puri Bunda Madura kini berada di bawah sorotan tajam. Seorang ibu yang sempat menjalani persalinan di fasilitas tersebut terpaksa harus kembali dibedah setelah dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kejadian ini memicu keraguan serius keluarga atas kualitas penanganan medis yang diterima pasien sebelumnya.

Guna memperoleh kejelasan, pihak keluarga berhak meminta salinan rekam medis guna menelusuri riwayat perawatan dan tindakan yang telah dilakukan. Rizki, sepupu sekaligus kuasa hukum pasien QQ, menyatakan Humas RSIA Puri Bunda—yang hanya disebut dengan inisial S—telah mengonfirmasi lewat pesan WhatsApp bahwa dokumen bisa diambil setelah melengkapi persyaratan, termasuk surat kuasa resmi dari pasien.

“Kami sudah penuhi semua syarat, termasuk menyerahkan surat kuasa hukum. Namun saat datang langsung, rekam medis itu tidak juga diserahkan. Kami malah diarahkan menemui seseorang bernama F yang disebut juga sebagai Humas,” ungkap Rizki dengan nada kecewa.

Hingga kini dokumen yang diminta belum diterima, membuat prosedur terasa berbelit-belit dan tidak jelas. Rizki mempertanyakan alasan penundaan tersebut, padahal hak akses rekam medis dijamin undang‑undang.

“Kami hanya butuh bukti tertulis untuk menjawab kenapa pasien harus dioperasi lagi. Kalau syarat sudah lengkap, tidak ada alasan mempersulit. Ini soal nyawa dan nasib seseorang,” tegasnya.

Berita ini menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Sutrisno, Ketua Umum Lembaga Marmoyo Community yang dikenal aktif dalam gerakan sosial. Ia mengecam keras penanganan kasus ini dan menegaskan masalah semacam ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

“Kejadian ini harus disuarakan lantang hingga didengar pemerintah pusat. Kami menuntut pengawasan ketat: jangan izinkan rumah sakit atau puskesmas yang belum mumpuni, belum memiliki tenaga bersertifikat dan teruji, membuka layanan medis sembarangan. Jika hal ini dianggap remeh, korban akan makin banyak dan risikonya bisa jauh lebih fatal,” seru Sutrisno.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari manajemen RSIA Puri Bunda Madura terkait dugaan penanganan medis dan penolakan akses rekam medis tersebut.

( Redaksi )

Exit mobile version