Pasuruan ||LiputanKasus.com – Format Pasuruan sudah membuka datanya: anggaran acara Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 hampir Rp4 miliar. Sekarang, mari kita bicara jujur dan sederhana saja: apa yang sebenarnya rakyat dapatkan dari uang sebesar itu?
Coba bayangkan. Rp4 miliar itu bukan angka kecil. Itu uang rakyat, dari pajak yang dipungut sampai ke pedagang pasar, petani, buruh pabrik, sopir, tukang ojek — semua orang yang bekerja keras setiap hari demi sesuap nasi.
Sementara uang sebesar itu dihabiskan untuk panggung, kostum, dan pesta satu hari, mari kita lihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi di Kabupaten Pasuruan:
Masih ada 8,21 persen warga Kabupaten Pasuruan yang hidup miskin. Bukan sedikit, itu puluhan ribu orang.
Indeks Pembangunan Manusia kita cuma 73,02 — nomor 28 dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Kalah dari banyak daerah lain.
Rata-rata warga kita cuma sekolah 7,46 tahun. Artinya, rata-rata anak Pasuruan bahkan belum lulus SMP.
Ironisnya, dua bulan lalu Bupati sendiri yang bicara di depan DPRD: kas daerah defisit Rp299 miliar. Katanya uang daerah lagi seret. Tapi anehnya, untuk pesta satu hari, uang hampir Rp4 miliar tetap bisa keluar dengan mudah.
Pertanyaannya sekarang sederhana saja: kenapa untuk sekolah rusak, jalan desa hancur, dan rakyat miskin, selalu jawabannya “anggaran terbatas”? Tapi untuk panggung megah dan kostum karnaval, uang selalu ada?
Bayangkan kalau Rp4 miliar itu tidak dihabiskan untuk pesta satu hari. Uang segitu bisa jadi:
Ratusan ribu paket sembako, dibagikan langsung ke keluarga miskin yang benar-benar butuh makan.
Beasiswa untuk ribuan anak putus sekolah, supaya mereka tidak putus asa dan bisa terus belajar.
Perbaikan puluhan jalan desa dan saluran irigasi yang selama ini rusak dan dikeluhkan petani setiap musim tanam.
FORMAT Pasuruan tidak bilang acara budaya itu haram atau tidak boleh ada. Yang kami pertanyakan cuma satu: apakah pesta satu hari itu benar-benar lebih penting dari perut rakyat yang lapar, anak-anak yang putus sekolah, dan petani yang menjerit karena irigasinya rusak?
Yang lebih menyakitkan, ini bukan acara pertama. Tahun lalu, Bangil Carnival 2025, Bupati sendiri sudah mengakui acaranya “masih banyak kekurangan”. Kalau kekurangan tahun lalu saja belum dibenahi, kenapa anggarannya sekarang malah ditambah, bukan dievaluasi?
Rakyat kecil tidak butuh panggung megah yang dibongkar keesokan harinya. Rakyat kecil butuh perutnya kenyang, anaknya bisa sekolah, dan jalan desanya bisa dilewati tanpa takut jatuh. Sesederhana itu.
Pemkab Pasuruan harus menjawab: berapa sebenarnya manfaat ekonomi dari acara ini untuk rakyat kecil, dibanding hampir Rp4 miliar yang dihabiskan? Kalau memang sepadan, buktikan dan buka datanya. Kalau tidak pernah dihitung, itu artinya rakyat cuma jadi penonton dari pesta yang dibayar dengan uangnya sendiri.
FORMAT Pasuruan / Ismail Makky, SE, SH., MM. (Ketua)
( Daeng )
