BISNISEKONOMI
Trending

Pendapatan Petani Naik 26 % Dengan Mekanisasi

Mekanisasi alsintan mampu tekan biaya usaha tani hingga 46%,

Jakarta||Liputankasus.com Mekanisasi alat mesin pertanian (alsintan) mampu menekan biaya usaha tani hingga 46%, Sehingga bisa meningkatkan pendapatan keluarga petani skala kecil hingga 26%. Peningkatan ini diharapkan bisa mendukung pembangunan ekosistem agribisnis berkelanjutan.

“Peran mekanisasi pertanian berkembang cukup pesat dalam lima tahun terakhir  misalnya pada usaha tani padi dan jagung. Misalnya penggunaan alat panen dan perontok (combine harvester),” ujar Nanang Widyanarko, Principal Business PRISMA dalam seminar Agrina bertajuk “Pertanian Modern: Meraih Peluang Pasar Mesin Pertanian di Indonesia” di Jakarta, Kamis (7/3).

Penggunaan mekanisasi pertanian ini pun berhasil menurunkan biaya usaha tani hingga 46%. Bahkan terjadi penurunan kerja fisik petani perempuan hingga 90%. Intervensi dalam hal mekanisasi karena biaya usaha tani terbesar adalah di sewa lahan dan tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan penanaman dan pemananen.

Khusus adopsi petani mekanisasi di Jatim, penggunaan combine harvester meningkat sampai 36%. “Pendekatan kami adalah pengembangan dari sisi komersialnya. Petani adalah salah satu sistem pasar yakni sebagai penghasil produk dan jasa. Sistem pasar yang ideal bergerak bersama dan memperoleh pendapatan yang sepadan denga apa yang diinvestasikan,” tegasnya.

Karena itu, PRISMA, terus berkomitmen mendorong perluasan adopsi alsintan di tingkat petani. Termasuk berbagi resiko dan pelatihan kepada para mitra petani. Menurutnya, potensi pertumbuhan mekanisasi di Tanah Air masih terbuka luas.

PRISMA juga berupaya mengenalkan manfaat drone bagi usaha tanam padi misalnya pemberian perbenihan dan pemupukan. Pihaknya merangkul Asosiasi Teknologi Tanpa Awak (ASTTA) mengembangkan materi pelatihan penyemprotan lahan bagi operator drone.

Nanang meyakinkan, pengadopsian mekanisasi akan meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan di keluarga petani. Hal ini akan teruji ketika menghadapi guncangan pasar dan perubahan iklim. “Petani masih mengandalkan pola tanam dan proses panen yang masih manual,” harap Nanang.

TMR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button